Pemkab Humbahas Terima Bantuan Mesin Pencacah Plastik dari Kementerian PUPR


Sebagai salah satu kabupaten dalam lingkup kawasan strategis pariwisata nasional Danau Toba, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) mendapat bantuan hibah satu unit mesin pencacah plastik dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Teknologi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Sebagai salah satu kabupaten dalam lingkup kawasan strategis pariwisata nasional Danau Toba, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) mendapat bantuan hibah satu unit mesin pencacah plastik dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Teknologi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Bantuan itu diserahkan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Kementerian PUPR, Rezeki Peranginangin kepada Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor diwakili Sekdakab Tonny Sihombing di Kantor Bupati, Bukit Inspirasi Doloksanggul, Sabtu (12/5).

Dalam sambutan bupati yang dibacakan Sekdakab Tonny Sihombing menyampaikan rasa syukur dan terimakasih atas bantuan tersebut. Kata dia, untuk mewujudkan Kabupaten Humbang Hasundutan yang Hebat, daerah itu masih membutuhkan banyak perhatian, perbaikan dan pembenahan berupa peralatan lainnya dari hasil kajian Puslitbang Kearsipan dan Penerapan Teknologi. “Untuk mewujudkan hal tersebut, dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah pusat sangatlah penting,” kata Tonny.

Lebih lanjut disampaikan, dengan adanya bantuan mesin pencacah plastik yang diproyeksikan hasilnya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan aspal plastik dalam pembangunan jalan lingkar Danau Toba, diharapkan permasalahan sampah plastik akan berkurang sesuai dengan program nasional Presiden yang tertuang dalam Perpres No 97 Tahun 2017. Selain itu, juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat terutama penggiat lingkungan (kelompok masyarakat).

“Semoga alat ini bermanfaat dan tepat guna bagi pengurangan sampah plastik di Kabupaten Humbang Hasundutan. Dan momen ini kita sepakati menjadi awal dari bangkitnya pengelolaan sampah di daerah ini. Merubah paradigma lama menjadi metode baru dalam mengatasi masalah persampahan. Kita galakkan bank sampah yang merupakan program pemerintah dalam rangka pengurangan sampah di kabupaten ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Kementerian PUPR, Rezeki Peranginangin menyampaikan isu lingkungan saat ini menjadi perhatian baik secara nasional maupun global. Lingkungan dari tahun ke tahun terancam oleh berbagai dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas manusia. Salah satu masalah lingkungan yang sangat nyata dihadapi adalah sampah plastik.

Dijelaskan, plastik merupakan produk yang serbaguna, ringan, fleksibel dan relatif murah. Karena berbagai keuntungan dan kemudahan tersebut, penggunaan plastik berdampak buruk bagi lingkungan. Selain mencemari lingkungan darat, sampah plastik juga tidak mudah hancur.

“Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jambeck tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik di laut terbesar ke-2 di dunia setelah China. Hal ini seharusnya membuat kita prihatin dan mulai mencari solusi yang dapat dilakukan. Pada pertemuan G-20 di Hamburg, Presiden Jokowi dalam pidatonya berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik laut sebesar 70% hingga 2025,” kata Rezeki.

Pada kesempatan itu, dia juga menyampaikan, berdasarkan hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR, limbah plastik kresek jenis LDPE dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah pada campuran beraspal yang secara langsung dapat mengurangi pencemaran lingkungan, ditambah plastik jenis ini sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi atau tidak laku.

“Pemanfaatan limbah plastik dalam campuran beraspal ini semoga bisa menjadi satu solusi pelestarian lingkungan hidup di Indonesia dan membuka pola pikir masyarakat untuk mencintai lingkungan. Adanya teknologi ini juga turut menjadi suatu gerakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah plastik harus ditangani,” harapnya.

Disebutkan, uji coba penggunaan limbah plastik pada campuran beraspal sudah mulai dilakukan pada 2017, yaitu di Bali, Bekasi, Makassar, Solo, Pasuruan dan Banten. “Keberadaan mesin ini merupakan bentuk kesungguhan Kementerian PUPR dalam mendukung gerakan penyelamatan lingkungan untuk mengurangi jumlah limbah plastik, khususnya kantong plastik kresek  melalui penerapan teknologi aspal plastik sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk mengumpulkan dan mencacah kantong kresek bekas,” pungkasnya.

Hadir dalam penyerahan bantuan itu, mewakili Direktur Preservasi Jalan, Ditjen Binamarga, Kepala Balai Litbang Penerapan Teknologi Jalan dan Jembatan Satrio Sang Raksono, Kepala BBPJN II Medan, Kepala Satuan Kerja Penerapan Teknologi Jalan dan Jembatan Budiprastiyo Doelrachman, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provsu, Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi, Plt Kepala Bappeda Humbahas Hotmaida Uli Butarbutar, Plt Asisten Pemerintahan Humbahas Makden Sihombing, Asisten Ekonomi Pembangunan Lamhot Hutasoit, Kadis Lingkungan Hidup Minrod Sigalingging dan lainnya.

Bantuan itu diserahkan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Kementerian PUPR, Rezeki Peranginangin kepada Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor diwakili Sekdakab Tonny Sihombing di Kantor Bupati, Bukit Inspirasi Doloksanggul, Sabtu (12/5).

Dalam sambutan bupati yang dibacakan Sekdakab Tonny Sihombing menyampaikan rasa syukur dan terimakasih atas bantuan tersebut. Kata dia, untuk mewujudkan Kabupaten Humbang Hasundutan yang Hebat, daerah itu masih membutuhkan banyak perhatian, perbaikan dan pembenahan berupa peralatan lainnya dari hasil kajian Puslitbang Kearsipan dan Penerapan Teknologi. “Untuk mewujudkan hal tersebut, dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah pusat sangatlah penting,” kata Tonny.

Lebih lanjut disampaikan, dengan adanya bantuan mesin pencacah plastik yang diproyeksikan hasilnya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan aspal plastik dalam pembangunan jalan lingkar Danau Toba, diharapkan permasalahan sampah plastik akan berkurang sesuai dengan program nasional Presiden yang tertuang dalam Perpres No 97 Tahun 2017. Selain itu, juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat terutama penggiat lingkungan (kelompok masyarakat).

“Semoga alat ini bermanfaat dan tepat guna bagi pengurangan sampah plastik di Kabupaten Humbang Hasundutan. Dan momen ini kita sepakati menjadi awal dari bangkitnya pengelolaan sampah di daerah ini. Merubah paradigma lama menjadi metode baru dalam mengatasi masalah persampahan. Kita galakkan bank sampah yang merupakan program pemerintah dalam rangka pengurangan sampah di kabupaten ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Kementerian PUPR, Rezeki Peranginangin menyampaikan isu lingkungan saat ini menjadi perhatian baik secara nasional maupun global. Lingkungan dari tahun ke tahun terancam oleh berbagai dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas manusia. Salah satu masalah lingkungan yang sangat nyata dihadapi adalah sampah plastik.

Dijelaskan, plastik merupakan produk yang serbaguna, ringan, fleksibel dan relatif murah. Karena berbagai keuntungan dan kemudahan tersebut, penggunaan plastik berdampak buruk bagi lingkungan. Selain mencemari lingkungan darat, sampah plastik juga tidak mudah hancur.

“Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jambeck tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik di laut terbesar ke-2 di dunia setelah China. Hal ini seharusnya membuat kita prihatin dan mulai mencari solusi yang dapat dilakukan. Pada pertemuan G-20 di Hamburg, Presiden Jokowi dalam pidatonya berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik laut sebesar 70% hingga 2025,” kata Rezeki.

Pada kesempatan itu, dia juga menyampaikan, berdasarkan hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR, limbah plastik kresek jenis LDPE dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah pada campuran beraspal yang secara langsung dapat mengurangi pencemaran lingkungan, ditambah plastik jenis ini sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi atau tidak laku.

“Pemanfaatan limbah plastik dalam campuran beraspal ini semoga bisa menjadi satu solusi pelestarian lingkungan hidup di Indonesia dan membuka pola pikir masyarakat untuk mencintai lingkungan. Adanya teknologi ini juga turut menjadi suatu gerakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah plastik harus ditangani,” harapnya.

Disebutkan, uji coba penggunaan limbah plastik pada campuran beraspal sudah mulai dilakukan pada 2017, yaitu di Bali, Bekasi, Makassar, Solo, Pasuruan dan Banten. “Keberadaan mesin ini merupakan bentuk kesungguhan Kementerian PUPR dalam mendukung gerakan penyelamatan lingkungan untuk mengurangi jumlah limbah plastik, khususnya kantong plastik kresek  melalui penerapan teknologi aspal plastik sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk mengumpulkan dan mencacah kantong kresek bekas,” pungkasnya.

Hadir dalam penyerahan bantuan itu, mewakili Direktur Preservasi Jalan, Ditjen Binamarga, Kepala Balai Litbang Penerapan Teknologi Jalan dan Jembatan Satrio Sang Raksono, Kepala BBPJN II Medan, Kepala Satuan Kerja Penerapan Teknologi Jalan dan Jembatan Budiprastiyo Doelrachman, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provsu, Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi, Plt Kepala Bappeda Humbahas Hotmaida Uli Butarbutar, Plt Asisten Pemerintahan Humbahas Makden Sihombing, Asisten Ekonomi Pembangunan Lamhot Hutasoit, Kadis Lingkungan Hidup Minrod Sigalingging dan lainnya.